Showing posts with label SAVE EARTH. Show all posts
Showing posts with label SAVE EARTH. Show all posts

Solusi Untuk Mengurangi Pemanasan Global

on

Pemanasan global telah menjadi permasalahan yang menjadi sorotan utama umat manusia. Fenomena ini bukan lain diakibatkan oleh perbuatan manusia sendiri dan dampaknya diderita oleh manusia itu juga. Berbagai usaha orang-orang yang peduli akan kelangsungan hidup telah dilakukan, namun sampai saat ini belum ada hasil yang signifikan. Banyak hambatan menjadi penghalang dalam mengatasi pemanasan global. Bahkan yang jadi masalah, negara-negara maju yang seharusnya menjadi pelopor dalam mengatasi pemanasan global malah menjadi sumber utama pemanasan itu. Hal ini berkaitan erat dengan proses industri yang menjadi penyebab utama pemanasan global.
Untuk mengatasi pemanasan global diperlukan usaha yang sangat keras karena hampir mustahil untuk diselesaikan saat ini.

Pemanasan global memang sulit diatasi, namun kita bisa mengurangi efeknya. Jika ditinjau dari pemansan global, sistem dibumi dapat dikelompokkan menjadi 2 daerah,yaitu daerah produksi panas dan daerah penetral panas. Daerah utama pemroduksi panas adalah negara-negara besar dan matang, jadi cukup sulit untuk mendesak mereka menghentikan aktifitas, terutama industri, yang menjadi penghasil panas bumi berlabih.

Daerah yang dapat menjadi penetral panas adalah daerah di khatulistiwa atau daerah yang masih banyak memiliki hutan hujan tropis. Ada tiga daerah utama di bumi yang dapat dikatakan sebagai “paru-paru dunia” karena potensinya untuk mengatur sirkulasi air dan udara, pengatur suhu bumi, penentu iklim, dan me-refresh bumi secara periodik. Ketiga daerah utama paru-paru bumi itu adalah Indonesia, Brazil, dan Afrika Tengah. Indonesia lebih berperan sebagai paru-paru dunia dibandingkan dua Negara lainnya karena memiliki kondisi laut yang luas dan dangkal serta sinar matahari berlimpah, sehingga konvensi air lebih aktif.

Secara logika kesuluruhan tubuh akan rusak jika paru-parunya juga rusak. Begitu juga kasus Indonesia sebagai paru-paru dunia, kondisinya yang memprihatinkan membuat fungsinya sebagai paru-paru dunia tidak bekerja optimal. Daerah yang diharapkan bisa menjadi paru-paru dunia justru menjadi penyumbang emisi global sebanyak 25%. Persentasi sebanyak ini adalah emisi global yang dihasilkan dari pembakaran hutan yang marak terjadi di daerah-daerah yang memiliki hutan hujan tropis. Sedangkan 75% emisi global yang lain berasal dari emisi yang ditimbulkan industri, pertambangan dan energi, serta limbah rumah tangga.

Untuk mengurangi efek pemanasan global, secepat mungkin kita harus memperbaiki dan menjaga paru-paru bumi itu. Harus ada hukum yang jelas, tegas, dan digunakan dalam menjerat oknum-oknum yang melakukan pengrusakan terhadap paru-paru bumi, seperti penebangan liar, pembakaran, dan pemusnahan hutan. Selain itu kita harus menciptaan suatu sistem preventif yang dapat mencegah pengrusakan hutan yang disebabkan oleh fenomena alam, seperti banjir, gempa, longsor, atau terbakarnya hutan secara natural. Jika paru-paru bumi sudah bekerja sebagaimana mestinya, maka secara berangsur panas bumi dapat berkurang karena adanya daur sirkulasi, baik air maupun udara. Pemanasan global memang tidak teratasi, namun sedapat mungkin kita mengupayakan agar pemanasan itu dapat berkurang dan tidak semakin parah. Ini semua untuk kelangsungan hidup kita bersama.

Fakta tentang Save Earth

on

  • Botol atau tempat makanan dari bahan plastik akan mulai hancur setelah 50.000 tahun.

1 Rim HVS = 1 Pohon !!

on

Untuk memproduksi kertas, dalam setahun lebih dari enam juta pohon yang ditebang. Karena untuk memproduksi satu rim kertas HVS saja, akan menghabiskan satu batang pohon berusia minimal 5 tahun.

Sementara itu menurut Rainforest Information Center, 20 buah pohon harus ditebang untuk menghasilkan lima ribu eksemplar koran, padahal satu lembar koran saja setara dengan 8 lembar kertas ukuran A4.

Global Warming - Apa dan mengapa

on


Sejak dikenalnya ilmu mengenai iklim, para ilmuwan telah mempelajari bahwa ternyata iklim di Bumi selalu berubah. Dari studi tentang jaman es di masa lalu menunjukkan bahwa iklim bisa berubah dengan sendirinya, dan berubah secara radikal. Apa penyebabnya? Meteor jatuh? Variasi panas Matahari? Gunung meletus yang menyebabkan awan asap? Perubahan arah angin akibat perubahan struktur muka Bumi dan arus laut? Atau karena komposisi udara yang berubah? Atau sebab yang lain?

Sampai baru pada abad 19, maka studi mengenai iklim mulai mengetahui tentang kandungan gas yang berada di atmosfer, disebut sebagai gas rumah kaca, yang bisa mempengaruhi iklim di Bumi. Apa itu gas rumah kaca?

Sebetulnya yang dikenal sebagai ‘gas rumah kaca’, adalah suatu efek, dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca sendiri, seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga temperatur permukaaan Bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30°C, atau kalau tidak, maka tentu saja tidak akan ada kehidupan di muka Bumi ini.

Pada sekitar tahun 1820, bapak Fourier menemukan bahwa atmosfer itu sangat bisa diterobos (permeable) oleh cahaya Matahari yang masuk ke permukaan Bumi, tetapi tidak semua cahaya yang dipancarkan ke permukaan Bumi itu bisa dipantulkan keluar, radiasi merah-infra yang seharusnya terpantul terjebak, dengan demikian maka atmosfer Bumi menjebak panas (prinsip rumah kaca).

Tiga puluh tahun kemudian, bapak Tyndall menemukan bahwa tipe-tipe gas yang menjebak panas tersebut terutama adalah karbon-dioksida dan uap air, dan molekul-molekul tersebut yang akhirnya dinamai sebagai gas rumah kaca, seperti yang kita kenal sekarang. Arrhenius kemudian memperlihatkan bahwa jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatgandakan, maka peningkatan temperatur permukaan menjadi sangat signifikan.

Semenjak penemuan Fourier, Tyndall dan Arrhenius tersebut, ilmuwan semakin memahami bagaimana gas rumah kaca menyerap radiasi, memungkinkan membuat perhitungan yang lebih baik untuk menghubungkan konsentrasi gas rumah kaca dan peningkatan Temperatur. Jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatduakan saja, maka temperatur bisa meningkat sampai 1°C.

Tetapi, atmosfer tidaklah sesederhana model perhitungan tersebut, kenyataannya peningkatan temperatur bisa lebih dari 1°C karena ada faktor-faktor seperti, sebut saja, perubahan jumlah awan, pemantulan panas yang berbeda antara daratan dan lautan, perubahan kandungan uap air di udara, perubahan permukaan Bumi, baik karena pembukaan lahan, perubahan permukaan, atau sebab-sebab yang lain, alami maupun karena perbuatan manusia. Bukti-bukti yang ada menunjukkan, atmosfer yang ada menjadi lebih panas, dengan atmosfer menyimpan lebih banyak uap air, dan menyimpan lebih banyak panas, memperkuat pemanasan dari perhitungan standar.

Sejak tahun 2001, studi-studi mengenai dinamika iklim global menunjukkan bahwa paling tidak, dunia telah mengalami pemanasan lebih dari 3°C semenjak jaman pra-industri, itu saja jika bisa menekan konsentrasi gas rumah kaca supaya stabil pada 430 ppm CO2e (ppm = part per million = per satu juta ekivalen CO2 - yang menyatakan rasio jumlah molekul gas CO2 per satu juta udara kering). Yang pasti, sejak 1900, maka Bumi telah mengalami pemanasan sebesar 0,7°C.

Lalu, jika memang terjadi pemanasan, sebagaimana disebut; yang kemudian dikenal sebagai pemanasan global, (atau dalam istilah populer bahasa Inggris, kita sebut sebagai Global Warming): Apakah merupakan fenomena alam yang tidak terhindarkan? Atau ada suatu sebab yang signfikan, sehingga menjadi ‘populer’ seperti sekarang ini? Apakah karena Al Gore dengan filmnya “An Inconvenient Truth” yang mempopulerkan global warming? Tentunya tidak sesederhana itu.

Perlu kerja-sama internasional untuk bisa mengatakan bahwa memang manusia-lah yang menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global. Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2007, menunjukkan bahwa secara rata-rata global aktivitas manusia semenjak 1750 menyebabkan adanya pemanasan. Perubahan kelimpahan gas rumah kaca dan aerosol akibat radiasi Matahari dan keseluruhan permukaan Bumi mempengaruhi keseimbangan energi sistem iklim. Dalam besaran yang dinyatakan sebagai Radiative Forcing sebagai alat ukur apakah iklim global menjadi panas atau dingin (warna merah menyatakan nilai positif atau menyebabkan menjadi lebih hangat, dan biru kebalikannya), maka ditemukan bahwa akibat kegiatan manusia-lah (antropogenik) yang menjadi pendorong utama terjadinya pemanasan global.

Sumber terutama peningkatan konsentrasi karbon-dioksida adalah penggunaan bahan bakar fosil, ditambah pengaruh perubahan permukaan tanah (pembukaan lahan, penebangan hutan, pembakaran hutan, mencairnya es). Peningkatan konsentrasi metana (CH4), dari 715 ppb (part per billion= satu per milyar) di jaman pra-industri menjadi 1732 ppb di awal 1990-an, dan 1774 pada tahun 2005. Ini melebihi angka yang berubah secara alamiah selama 650 ribu tahun (320 - 790 ppb). Sumber utama peningkatan metana pertanian dan penggunaan bahan bakar fosil. Konsentrasi nitro-oksida (N2O) dari 270 ppb - 319 ppb pada 2005. Seperti juga penyumbang emisi yang lain, sumber utamanya adalah manusia dari agrikultural. Kombinasi ketiga komponen utama tersebut menjadi penyumbang terbesar pada pemanasan global.

Kontribusi antropogenik pada aerosol (sulfat, karbon organik, karbon hitam, nitrat and debu) memberikan efek mendinginkan, tetapi efeknya masih tidak dominan dibanding terjadinya pemanasan, disamping ketidakpastian perhitungan yang masih sangat besar. Demikian juga dengan perubahan ozon troposper akibat proses kimia pembentukan ozon (nitrogen oksida, karbon monoksida dan hidrokarbon) berkontribusi pada pemanasan global. Kemampuan pemantulan cahaya Matahari (albedo), akibat perubahan permukaan Bumi dan deposisi aerosol karbon hitam dari salju, mengakibatkan perubahan yang bervariasi, dari pendinginan sampai pemanasan. Perubahan dari pancaran sinar Matahari (solar irradiance) tidaklah memberi kontribusi yang besar pada pemanasan global.

Dengan demikian, maka dapat dipahami bahwa memang manusia yang berperanan bagi nasibnya sendiri, karena pemanasan global terjadi akibat perbuatan manusia sendiri. Lalu bagaimana dampak Global Warming bagi kehidupan? Alur waktu prediksi dan dampak dari perspektif sains dapat dibaca pada bagian kedua tulisan ini.


Sumber : http://langitselatan.com

Pulau Paskah

on



Ketika Jacob Roggeveen menemukan sebuah pulau di Hari Paskah tahun 1722, dia menemukan sebuah pulau gersang yang hanya dihuni oleh ratusan penduduk. Tetapi alangkah terpesonanya dia ketika melihat berdirinya ratusan patung-patung raksasa yang oleh penduduk lokal disebuat moai. Bagaimana, tanya Roggeveen, mereka mampu mendirikan patung-patung tersebut tanpa sumber daya yang memadai? Pulau yang kemudian diberi nama Pulau Paskah (Easter Island) tersebut juga merupakan salah satu pulau terjauh di dunia sehingga interaksi dengan pulau-pulau tetangga boleh dibilang sangat minim.

Ratusan tahun berlalu dan banyak ahli yang masih mencoba menerka bagaimana patung-patung tersebut didirikan. Berbagai teori dilahirkan, termasuk bantuan makhluk-makhluk cerdas luar angkasa. Akhirnya teori yang lebih masuk di akal berhasil dibuat dan dibuktikan melalui rekonstruksi.

Pulau Paskah, ternyata di jaman sebelumnya tidaklah segersang saat ini. Ribuan pohon kelapa berbaris rapi di tepi-tepi pantai. Pohon-pohon besar lainnya juga tumbuh di sana. Lalu kemana perginya pohon-pohon tersebut? Jawabannya ternyata sangat berhubungan dengan patung-patung raksasa tersebut. Ya, pohon-pohon tersebut ditebang agar bisa dipakai untuk mengangkut dan mendirikan patung-patung tersebut. Patung-patung yang didirikan tak lain tak bukan untuk — apa lagi kalau bukan — menunjukkan persaingan ego suku-suku di sana yang berlomba-lomba mendirikan patung yang lebih besar.

Hari ini, ribuan kilometer di selatan Pulau Paskah, es Antartika mulai mencair. Adakah hubungan antar keduanya? Kita tidak perlu berpikir terlalu jauh untuk menarik benang merah antar kedua kejadian yang terpisah ruang dan waktu tersebut. Bumi kita sekarang ini adalah sebuah “Pulau Paskah”, sebuah planet yang jauh terpisah dari planet-planet lainnya yang bisa mendukung kehidupan (itu pun kalau ada). Saat ini, bumi kita masih hijau, tapi mulai menjalani alur sejarah yang sama dengan apa yang akhirnya menimpa Pulau Paskah. Jutaan kubik gas karbondioksida yang kita buang ke atmosfir tiap hari telah membuat bumi kita tambah panas dan hidup kita makin kacau. Kita berlomba-lomba menunjukkan ego kita dengan membeli mobil yang lebih besar, membangun gedung yang lebih megah yang memakai listrik yang lebih banyak, mendirikan pabrik-pabrik berkapasitas raksasa, yang semuanya membutuhkan sumber daya bumi yang terbatas.

Untuk sesaat, kita memang belum merasakan efeknya. Tetapi time is running out. Belum percaya? Lihatlah kehidupan sehari-hari kita di Indonesia. Untuk memperoleh minyak tanah, kita harus antri berjam-jam. Elpiji langka juga. Listrik mati padam. Dan itu baru awalnya.

Lalu apa berita baiknya? Berita baiknya adalah kita bisa belajar dari sejarah yang menimpa Pulau Paskah (dan peradaban-peradaban lainnya seperti Maya, Viking, dan Tokugawa yang akan saya bahas di posting-posting berikutnya). Selain itu kita telah membuktikan di tengah-tengah keegoisan sejumlah umat manusia, masih banyak orang-orang yang secara tulus mau melakukan apa saja untuk menyelamatkan bumi ini. Sejarah juga mengajarkan kita bahwa bila kita semua bekerja sama untuk mengatasi sebuah masalah — meski itu adalah masalah global — tidak ada hal yang mustahil. Punahnya penyakit cacar, hampir diberantasnya polio, berkurangnya angka kematian karena melahirkan, dan bagaimana beberapa tahun lalu para ilmuwan dan dokter yang bekerja sama secara maraton di bawah koordinasi WHO mampu menciptakan vaksin virus SARS dalam waktu singkat, adalah bukti bahwa kerja sama dalam skala global adalah mungkin.

Dan bila ada satu pesan yang bisa disampaikan melalui posting ini adalah: Kita memang dalam masalah besar, tetapi sikap terbaik kita bukanlah duduk lemas (atau acuh) karena kita tidak tahu atau merasa terlalu kecil untuk melakukan sesuatu. Lakukanlah sesuatu untuk menyelamatkan bumi ini, sekecil apa pun itu (misalnya: mematikan peralatan listrik yang tidak dipakai, memakai lampu atau peralatan listrik yang hemat energi, atau tidak menyalakan mesin mobil ketika tidak dipakai, atau sekedar berdoa), dengan optimisme bahwa apa yang kita lakukan tersebut berarti. Bila kita tidak ingin melakukan hal tersebut untuk kita sendiri, lakukanlah demi anak cucu kita. Hidup mereka akan lebih nyaman kelak bila kita mau melakukan pengorbanan-pengorbanan kecil tersebut mulai sekarang.

Sumber : http://www.itpin.com

Es di Greenland dan Global Warming

on

Tahun 2006, Greenland mengalami hari-hari mencairnya salju pada ketinggian yang lebih tinggi dibanding ketinggian rata-rata selama 18 tahun. Hasil pengamatan harian menunjukkan mencairnya salju di lapisan es Greenland mengalami peningkatan setiap harinya.

Monitoring terhadap pelelehan saju di lapisan es Greenland secara harian dilakukan dengan Special Sensor Microwave Imaging radiometer (SSM/I) yang berada di pesawat ruang angkasa Defense Meteorological Satellite Program. Sensor akan mengukur sinyal elektromagnetik yang dipancarkan lapisan es dan mendeteksi lelehan salju yang terjadi lebih dari 10 hari lebih lama dari rata-rata yang terjadi pada area tertentu di Greenland.



Dengan adanya hasil pengamatan satelit secara periodik memberikan data dan informasi yang akan membantu para peneliti untuk mengetahui kecepatan alir glacier, banyaknya air dari salju yang mencair dan bergabung dengan lautan disekitarnya, juga untuk mengetahui seberapa banyak radiasi Matahari yang akan dipantulkan kembali ke atmosfer.


Salju kering dan basah memang terlihat sama jika dilihat untuk pertama kalinya. Tapi salju yang basah dan salju yang mengalami pembekuan kembali, memiliki tingkat penyerapan radiasi sinar Matahari yang lebih tinggi, dan hanya memantulkan 50-60 persen ke atmosfer. Sedangkan salju kering, memantulkan kembali 85 % radiasi Matahari. Dengan kata lain, salju yang meleleh akan menyerap 3-4 kali energi yang sama dibanding salju kering. Ini tentu akan memberi pengaruh yang besar pada persediaan energi di Bumi.

Mencairnya salju di Greenland memberi pengaruh yang sangat besar terhadap luas lapisan es yang terus berkurang dan terhadap tinggi dan dalam lautan diseluruh dunia. Sebagian air yang dihasilkan dari salju yang mencair juga akan mengalir kedalam glacier melalui patahan-patahan dan alur lubang vertikal (moulin), kemudian mencapai lapisan batuan dibawahnya dan melubrikasi (meminyaki, mencairkan) lapisan es diatasnya.

Pengamatan dan studi yang dilakukan sebelumnya oleh Jay Zwally dan Waleed Abdalati dari NASA Goddard menunjukkan, air yang mencair pada musim panas pada dasar lapisan es bisa meningkatkan gerak es dan menyebabkan terjadinya peningkatan level lautan (tinggi dan dalamnya) dengan sangat cepat. Fenomena ini akan mempercepat terjadinya pemanasan global.


Gambar skematik permukaan glacial yang mengilustrasikan bagaimana moulins mentransport air ke dasar glacier. credit : NASA.

sumber : NASA